Makam Pahlawan Kyai Modjo
Kembuan, Kec. Tondano Utara, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara
Wisata BudayaDeskripsi
Kyai Mojo, yang bernama asli Muslim Muhammad Halifah, lahir sekitar tahun 1764 dan wafat pada 20 Desember 1849.
Beliau dikenal sebagai ulama sekaligus panglima perang dalam era perjuangan melawan penjajahan Belanda, terutama dalam kaitannya dengan Pangeran Diponegoro pada Perang Jawa (1825-1830).
Setelah ditangkap atau diasingkan oleh Belanda, Kyai Mojo bersama para pengikutnya dibawa ke wilayah Tondano, Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara, dan dimakamkan di bukit Kampung Jawa (Jaton) di sana.
Lokasi Makam
Makam Kyai Mojo terletak di atas sebuah bukit di Kelurahan Kampung Jawa (Jl. … ), Kecamatan Tondano Utara, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara.
Kompleks makam ini mencakup area seluas ± 44.560 m².
Keunggulan & Nilai Historis
Sudah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional melalui SK Menteri Pendidikan & Kebudayaan Nomor 267/M/2016.
Makam ini menjadi saksi sejarah pengasingan para pejuang dan para pengikut yang dibawa dari Jawa ke Minahasa, kemudian menetap dan membentuk komunitas “Jawa-Tondano” (Jaton).
Arsitektur makamnya unik: terdapat cungkup berbentuk bangunan tradisional Jawa dengan atap sirap, dan makam Kyai Mojo memiliki jirat (teras makam) yang bersusun lima, serta dibedakan desainnya dengan makam pengikut atau keturunan lokal.
Beliau dikenal sebagai ulama sekaligus panglima perang dalam era perjuangan melawan penjajahan Belanda, terutama dalam kaitannya dengan Pangeran Diponegoro pada Perang Jawa (1825-1830).
Setelah ditangkap atau diasingkan oleh Belanda, Kyai Mojo bersama para pengikutnya dibawa ke wilayah Tondano, Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara, dan dimakamkan di bukit Kampung Jawa (Jaton) di sana.
Lokasi Makam
Makam Kyai Mojo terletak di atas sebuah bukit di Kelurahan Kampung Jawa (Jl. … ), Kecamatan Tondano Utara, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara.
Kompleks makam ini mencakup area seluas ± 44.560 m².
Keunggulan & Nilai Historis
Sudah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional melalui SK Menteri Pendidikan & Kebudayaan Nomor 267/M/2016.
Makam ini menjadi saksi sejarah pengasingan para pejuang dan para pengikut yang dibawa dari Jawa ke Minahasa, kemudian menetap dan membentuk komunitas “Jawa-Tondano” (Jaton).
Arsitektur makamnya unik: terdapat cungkup berbentuk bangunan tradisional Jawa dengan atap sirap, dan makam Kyai Mojo memiliki jirat (teras makam) yang bersusun lima, serta dibedakan desainnya dengan makam pengikut atau keturunan lokal.
Galeri Foto
Status Monitoring
Status Operasional:
Buka
Kepadatan Pengunjung:
Normal
*Data diperbarui: 04 Nov 2025, 11:03 WITA